Oleh : Kang Latif
(Komedian yang Tidak Lucu)
Setiap tanggal 22 Oktober, ritus tahunan Hari Santri Nasional dirayakan dengan penuh kemeriahan di seluruh penjuru negeri. Apel kebangsaan digelar anggun, peci dan sarung mendadak menjadi busana favorit, kirab budaya menyemut di jalan-jalan, dan panggung media sosial dibanjiri oleh ucapan digital berbalut jargon heroik. Euforia ini sepintas menerbitkan rasa bangga bahwa identitas santri kini bersemi gagah di panggung utama publik. Namun, di balik riuh rendah seremoni dan panggung peringatan tersebut, ada ironi sunyi yang menganga di tengah kehidupan masyarakat kita, yakni semangat merayakan Hari Santri yang kian berbanding terbalik dengan merosotnya minat anak muda dan remaja untuk duduk bersila menuntut ilmu di pondok pesantren, surau maupun majelis taklim.
Peringatan Hari Santri pada hakikatnya dimanifestasikan untuk meneladani Resolusi Jihad 1945—sebuah mozaik sejarah di mana para kyai dan santri bertaruh nyawa demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pilar utama yang melahirkan mentalitas tangguh tersebut adalah tradisi ngaji, sebuah proses penggemblengan moral, spiritual, dan intelektual secara konsisten. Sayangnya, fenomena belakangan ini memperlihatkan adanya pergeseran makna yang riskan, di mana spirit ke-santri-an lambat laun terkikis menjadi sekadar komoditas simbolik. Anak-anak muda hari ini begitu antusias memakai atribut santri untuk kebutuhan konten digital atau meramaikan pawai, tetapi ketika azan Magrib berkumandang dan majelis pengajian dibuka, tempat ngaji yang dahulu riuh oleh lantunan bait-bait ilmu kini makin sepi dari derap langkah remaja.
Melandainya minat ngaji pada generasi muda tentu tidak berdiri tunggal, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkelindan. Invasi gawai dan algoritma media sosial menyajikan hiburan tanpa henti yang menawarkan kepuasan instan, sehingga tradisi ngaji yang menuntut ketekunan, kedisiplinan, dan kesabaran kalah bersaing. Di sisi lain, beban kurikulum pendidikan formal yang padat sering kali menguras energi fisik dan mental remaja, membuat kegiatan mengaji di malam hari dipersepsikan sebagai beban tambahan alih-alih sebagai ruang penyegaran ruhani. Selain itu, krisis pendekatan dan metode komunikasi dari sebagian pengajar yang masih kaku dan kurang adaptif terhadap dinamika pemikiran Generasi Z dan Alpha turut memperlebar jarak antara remaja dan meja pengajian.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena status santri sejatinya bukanlah sekadar gaya berbusana atau simbol sosial, melainkan sebuah sikap hidup. Jika sebuah generasi hanya bangga merayakan Hari Santri tanpa pernah mengecap manis dan pahitnya tradisi ngaji, kita sedang mempertaruhkan masa depan karakter bangsa. Ngaji bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan transmisi nilai, adab, dan nilai-nilai spiritualitas. Tanpa tradisi ngaji yang hidup di akar rumput, euforia Hari Santri hanya akan menjadi cangkang kosong atau festival tahunan tanpa nyawa.
Agar peringatan Hari Santri tidak berujung pada romantisme sejarah yang hampa, dibutuhkan langkah konkret dan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Orang tua perlu kembali menegaskan posisi ngaji sebagai fondasi utama pendidikan karakter di rumah, bukan sekadar kegiatan sampingan jika ada waktu luang. Pada saat yang sama, para pengajar dan ustadz perlu mengemas metode penyampaian materi secara lebih dialogis, interaktif, dan relevan dengan persoalan mental maupun sosial yang dialami remaja masa kini, termasuk memanfaatkan media digital secara bijak tanpa mengikis adab penanaman ilmu.
Hari Santri Nasional sepatutnya menjadi momen mawas diri, bukan sekadar selebrasi musiman. Peci, sarung, dan deretan unggahan ucapan selamat di media sosial tidak akan ada artinya jika majelis-majelis ilmu ditinggalkan oleh para pewarisnya. Sebab, kehormatan seorang santri tidak diukur dari seberapa meriah ia mengarak panji-panji peringatan, melainkan seberapa setia ia duduk bersila, menundukkan kepala, dan menimba ilmu demi menerangi kehidupannya serta masyarakat di sekitarnya.


0 Komentar